AlFithrah

Kemenag Luncurkan Gerakan Nasional Pesantren Ramah Anak, Target Seluruh Indonesia Tercapai pada 2029

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan Islam yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui implementasi Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 91 Tahun 2025 tentang Pesantren Ramah Anak, yang menjadi landasan utama dalam membangun budaya perlindungan anak di lingkungan pesantren dan madrasah.

Sebagai bentuk penguatan implementasi kebijakan tersebut, Kemenag secara resmi meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (RANA) beserta aplikasi pendukung dan kanal pengaduan Telepontren. Seluruh program ini diarahkan untuk memastikan setiap santri memperoleh haknya untuk belajar, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan yang aman serta penuh kasih sayang.

Peluncuran Gerakan Nasional RANA dilaksanakan pada Ahad, 12 Juli 2026 secara luring di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, serta disiarkan secara daring melalui Zoom yang diikuti oleh perwakilan pondok pesantren dan Kantor Kementerian Agama dari seluruh Indonesia. Sebanyak 20 santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya mengikuti kegiatan ini via zoom bersama Kepala Pondok, Ust. Nashiruddin, M.Pd dan 3 perwakilan Kementerian Agama Kota Surabaya di Auditorium Al Fithrah Surabaya.

Pesantren Ramah Anak Menjadi Prioritas Nasional

Pondok Pesantren Al-Hamidiyah dipilih sebagai lokasi pencanangan Gerakan Nasional RANA karena dinilai berhasil memadukan sistem pendidikan salafiyah (tradisi kitab kuning) dengan pendekatan pendidikan modern (khalafiyah). Kegiatan ini menjadi agenda nasional yang dihadiri oleh berbagai pejabat tinggi negara, antara lain:

  • Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK)
  • Menteri Agama Republik Indonesia
  • Menteri Komunikasi dan Digital
  • Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
  • Pejabat Pemerintah Kota Depok
  • Pimpinan lembaga negara dan kementerian terkait

Gerakan ini merupakan bagian dari target besar pemerintah untuk menghadirkan standar Pesantren Ramah Anak di seluruh Indonesia pada tahun 2029. Program tersebut juga disinergikan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) agar sejak hari pertama memasuki lingkungan pendidikan, anak-anak telah merasakan suasana yang aman, nyaman, dan menghargai martabat mereka.

Menteri Agama: Anak Adalah Amanah yang Harus Dijaga Bersama

Dalam sambutannya, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa pesantren harus terus menjadi tempat paling aman bagi anak-anak.

“Kenapa aman? Karena aman lahir dari amanah dan iman, sehingga kelak akan melahirkan generasi yang Al-Amin.”

Beliau menjelaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang lahir dari rahim masyarakat. Oleh sebab itu, seluruh elemen bangsa memiliki kewajiban untuk terus merawat keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan, pembentukan karakter, dan peradaban.

Menurut Menag, perlindungan anak bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian dari implementasi Maqฤแนฃid al-Syarฤซ’ah, khususnya dalam menjaga lima kebutuhan pokok manusia (al-แธarลซriyyฤt al-khams), yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Ia juga menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan, baik fisik, seksual, psikis, maupun bentuk perundungan lainnya, tidak boleh mendapatkan toleransi sedikit pun di lingkungan pendidikan Islam.

Selain itu, Menteri Agama juga memperkenalkan rencana penguatan program Ekoteologi, sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik yang peduli terhadap sesama dan lingkungan.

Telepontren dan Gerakan RANA Perkuat Perlindungan Santri

Sebagai langkah konkret mewujudkan Pesantren Ramah Anak, Kementerian Agama telah menyiapkan berbagai program strategis, di antaranya:

  • 512 pondok pesantren ditetapkan sebagai percontohan nasional.
  • Pembentukan Satuan Tugas Pencegahan Kekerasan di berbagai daerah.
  • Peluncuran kanal pengaduan Telepontren berbasis WhatsApp yang cepat, aman, mudah diakses, dan menjaga kerahasiaan pelapor.
  • Integrasi program dengan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (RANA).

Melalui Gerakan RANA, pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan ruang yang aman bagi anak, baik di rumah, sekolah, pesantren, madrasah, lingkungan sosial, maupun ruang digital.

Anak-anak diharapkan memperoleh perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan, meliputi:

  • kekerasan fisik,
  • kekerasan seksual,
  • kekerasan psikis,
  • serta kekerasan di ruang digital.

Apabila masyarakat melihat, mengetahui, atau mengalami tindak kekerasan terhadap anak, pemerintah mengimbau agar segera melaporkannya melalui layanan SAPA 129, sehingga korban dapat memperoleh perlindungan dan pendampingan secara cepat.

Gerakan Nasional RANA juga sejalan dengan pelaksanaan Gerakan Bulan Bersama Lindungi Anak (BERLIAN) yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu membangun budaya perlindungan anak yang semakin kuat di seluruh satuan pendidikan Islam.

Melalui berbagai langkah tersebut, Kementerian Agama berharap pesantren benar-benar menjadi rumah kedua yang aman dan nyaman, tempat para santri tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan dan pendidikan agama, tetapi juga tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.

Dengan target implementasi nasional pada tahun 2029, Pesantren Ramah Anak diharapkan menjadi wajah baru pendidikan Islam Indonesia yang lebih inklusif, humanis, dan mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta siap membangun masa depan bangsa.

Kemuliaan dan Keutamaan Akal dalam Islam Menurut Imam Al-Mawardi dan Imam Al-Ghazali

Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW dan Pengajian Ahad Kedua Bulan Muharram 1448 H telah usai diselenggarakan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Ahad pagi, 28 Juni 2026 M. / 13 Muharram 1448 H. Dalam majlis itu dibacakan Kitab Al-Muntakhobat fi Rabithah Al-Qolbiyah wa Shilah Al-Ruhiyah Karya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, tepatnya pada jilid dua bab kemuliaan dan keutaman akal.

Akal merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia. Dengannya manusia mampu membedakan antara yang benar dan yang batil, mengenal Rabb-nya, memahami syariat, serta menjalani kehidupan dengan penuh hikmah. Oleh karena itu, para ulama menempatkan akal sebagai pondasi ilmu, sumber adab, dan sebab sempurnanya taklif (beban syariat).

Dalam khazanah Islam, banyak ulama yang menjelaskan kedudukan akal, di antaranya Sayyiduna Imam Abul Hasan Al-Mawardi dan Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali. Penjelasan mereka menunjukkan bahwa akal bukan sekadar kecerdasan berpikir, tetapi juga sarana menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kemuliaan Akal sebagai Dasar Agama dan Kehidupan

Sayyiduna Imam Abul Hasan Al-Mawardi menjelaskan bahwa seluruh keutamaan memiliki dasar, dan seluruh adab mempunyai sumber. Dasar tersebut adalah akal yang Allah jadikan sebagai pondasi agama sekaligus pilar kehidupan dunia.

Beliau berkata bahwa Allah mengaitkan kewajiban syariat dengan kesempurnaan akal. Dengan akal pula manusia mampu menjalankan hukum-hukum Allah serta hidup berdampingan meskipun memiliki keinginan, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda-beda.

Hal ini menunjukkan bahwa akal merupakan amanah yang harus dijaga. Semakin baik seseorang menggunakan akalnya untuk menaati Allah, semakin tinggi pula derajatnya di sisi-Nya.

Akal adalah Sumber Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali raแธฅimahullฤh menjelaskan hubungan yang sangat erat antara akal dan ilmu.

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ุงู„ู’ุญูุฌูŽู‘ุฉู ุงู„ู’ุบูŽุฒูŽุงู„ููŠูู‘ ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู: ยซุงู„ู’ุนูŽู‚ู’ู„ู: ู…ูŽู†ู’ุจูŽุนู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูˆูŽู…ูŽุทู’ู„ูŽุนูู‡ู ูˆูŽุฃูŽุณูŽุงุณูู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูŠูŽุฌู’ุฑููŠ ู…ูู†ู’ู‡ู ู…ูŽุฌู’ุฑูŽู‰ ุงู„ุซูŽู‘ู…ูŽุฑูŽุฉู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฌูŽุฑูŽุฉูุŒ ูˆูŽุงู„ู†ูู‘ูˆุฑู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ู…ู’ุณูุŒ ูˆูŽุงู„ุฑูู‘ุคู’ูŠูŽุฉู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽูŠู’ู†ูุŒ ููŽูƒูŽูŠู’ููŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุดู’ุฑููู ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ูˆูŽุณููŠู„ูŽุฉู ุงู„ุณูŽู‘ุนูŽุงุฏูŽุฉู ูููŠ ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉูุŸ …ยป

Artinya:

“Akal adalah sumber ilmu, tempat terbitnya ilmu, dan fondasinya. Ilmu berasal dari akal sebagaimana buah berasal dari pohon, cahaya berasal dari matahari, dan penglihatan berasal dari mata. Maka, bagaimana mungkin sesuatu yang menjadi sarana menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat tidak memiliki kemuliaan?”

Melalui penjelasan ini, Imam Al-Ghazali memberikan tiga perumpamaan yang sangat indah mengenai hubungan akal dan ilmu.

  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana buah berasal dari pohon. Pohon menjadi sebab lahirnya buah.
  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana cahaya berasal dari matahari. Cahaya tidak akan ada tanpa sumbernya.
  • Ilmu berasal dari akal sebagaimana penglihatan berasal dari mata. Mata menjadi alat yang memungkinkan seseorang melihat.

Karena ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, maka akal sebagai fondasi ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Akal hendaknya digunakan untuk mengenal Allah, mencari kebenaran, memahami syariat, serta mengamalkan ilmu dengan penuh keikhlasan.

Tanda-Tanda Orang yang Berakal dalam Islam

Kemuliaan akal tidak hanya diukur dari kecerdasan berpikir, tetapi juga tercermin dalam kemampuan mengendalikan diri dan memperbaiki akhlak.

Dalam Al-แธคikam aแนฃ-แนขughrฤ al-‘Aแนญฤ’iyyah disebutkan:

ูŠูุนู’ุฑูŽูู ุงู„ู’ุนูŽุงู‚ูู„ู ุจูุซูŽู„ูŽุงุซู: ุจูู…ูŽู„ูŽูƒูŽุชูู‡ู ู†ูŽูู’ุณูŽู‡ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ุดูŽู‘ู‡ู’ูˆูŽุฉูุŒ ูˆูŽุจูู…ูŽู„ูŽูƒูŽุชูู‡ู ู„ูŽู‡ูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู’ุบูŽุถูŽุจูุŒ ูˆูŽุจูุชูŽุฑู’ูƒูู‡ู ู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู†ููŠู‡ู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฏู’ุฑูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฏูู‘ุฎููˆู„ู ูููŠู‡ู.

Artinya:

“Seseorang yang berakal dikenali dari tiga perkara: kemampuannya menguasai dirinya ketika dorongan syahwat muncul, kemampuannya mengendalikan dirinya ketika sedang marah, dan kesediaannya meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya, padahal ia mampu untuk turut campur di dalamnya.”

Selain itu disebutkan pula sepuluh tanda kesempurnaan akal.

ุนูŽู„ูŽุงู…ูŽุฉู ุงู„ู’ุนูŽู‚ู’ู„ู ุนูŽุดู’ุฑูŒุŒ ุฎูŽู…ู’ุณูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุธูŽู‘ุงู‡ูุฑูุŒ ูˆูŽุฎูŽู…ู’ุณูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุงุทูู†ู. ุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ุธูŽู‘ุงู‡ูุฑู: ููŽุงู„ุตูŽู‘ู…ู’ุชูุŒ ูˆูŽุงู„ุชูŽู‘ูˆูŽุงุถูุนูุŒ ูˆูŽุญูุณู’ู†ู ุงู„ู’ุฎูู„ูู‚ูุŒ ูˆูŽุตูุฏู’ู‚ู ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ุงู„ุตูŽู‘ุงู„ูุญู. ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ู’ุจูŽุงุทูู†ู: ููŽุงู„ุชูŽู‘ููŽูƒูู‘ุฑูุŒ ูˆูŽุงู„ูุงุนู’ุชูุจูŽุงุฑูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุฎูุดููˆุนูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽูˆู’ููุŒ ูˆูŽุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู.

Artinya:

“Tanda-tanda orang yang berakal ada sepuluh. Lima di antaranya tampak secara lahiriah, dan lima lainnya bersifat batiniah.

Adapun yang lahiriah ialah:

  1. Diam (menjaga lisan).
  2. Rendah hati.
  3. Akhlak yang baik.
  4. Jujur dalam perkataan.
  5. Beramal saleh.

Adapun yang batiniah ialah:

  1. Gemar berpikir dan merenung.
  2. Mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.
  3. Khusyuk.
  4. Takut kepada Allah.
  5. Selalu mengingat kematian.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa kesempurnaan akal tidak hanya tampak dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kemuliaan akhlak dan kebersihan hati. Orang yang benar-benar berakal adalah mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, memperbaiki perilaku, serta menghidupkan hati dengan tafakur, mengambil ibrah, takut kepada Allah, dan senantiasa mengingat kehidupan akhirat.

Penutup

Akal merupakan karunia agung yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia sebagai dasar memahami agama, memperoleh ilmu, dan menjalani kehidupan dengan penuh hikmah. Imam Al-Mawardi menegaskan bahwa akal adalah pondasi agama dan sumber adab, sedangkan Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akal merupakan sumber lahirnya ilmu yang mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya memelihara akalnya dengan ilmu yang bermanfaat, memperindahnya dengan akhlak yang mulia, serta menggunakannya untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala. Inilah hakikat kemuliaan akal dalam Islam, yaitu akal yang membimbing pemiliknya menuju kebenaran, ketakwaan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Referensi:

Al-Muntakhobat fi Rabithah Al-Qolbiyah wa Shilah Al-Ruhiyah Karya Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy, jilid 1, hal. 276.

MUKERTA PDF Ulya Al Fithrah 2026: Perkuat Khidmah dan Bangun Manajemen Pendidikan yang Profesional

Musyawarah Kerja Tahunan (MUKERTA) PDF Ulya Al Fithrah Surabaya Tahun Pelajaran 2026โ€“2027 M sukses diselenggarakan pada Jumatโ€“Sabtu, 26โ€“27 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan untuk melakukan evaluasi, menyusun program kerja, serta memperkuat komitmen dalam meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan PDF Ulya Al Fithrah Surabaya.

Mengusung tema “Menguatkan Khidmah, Menegakkan Nilai Salaf, Membangun Manajemen Pendidikan yang Profesional, Inspiratif dan Berintegrasi”, kegiatan hari pertama dilaksanakan di Auditorium Al Fithrah, sedangkan hari kedua bertempat di Gedung Timur Lantai 5. Seluruh pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) PDF Ulya Al Fithrah Surabaya mengikuti agenda ini dengan penuh khidmat dan antusias.

Evaluasi Program dan Penguatan Komitmen Khidmah

Rangkaian acara diawali dengan seremonial keagamaan, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan rencana serta evaluasi program tahunan yang disampaikan langsung oleh Kepala PDF Ulya Al Fithrah Surabaya, Ust. H. Nashiruddin, M.M.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi mendalam kepada para khuddam (pendidik dan tenaga kependidikan) yang telah dengan penuh amanah dan tanggung jawab mengawal seluruh proses pembelajaran di PDF Ulya Al Fithrah Surabaya.

Selanjutnya, peserta mengikuti sesi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang terbagi menjadi beberapa kelompok, meliputi:

  • Mata pelajaran agama Imtihan Wathoni (IW)
  • Mata pelajaran agama non-IW
  • Mata pelajaran umum dan bahasa
  • Mata pelajaran sorogan
  • Mata pelajaran Al-Qur’an
  • Mata pelajaran Gramatika Arab

Di penghujung kegiatan hari pertama, Wakil Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, Ust. Ilyas Rahman, M.Ag, hadir memberikan sambutan sekaligus apresiasi terhadap tata kelola lembaga.

Beliau mengapresiasi transparansi laporan keuangan yang disampaikan oleh Pengurus PDF Ulya Al Fithrah.

“Kami memberi nilai 9 dari 10.”

Beliau juga menegaskan pentingnya akuntabilitas dalam pengelolaan dana pendidikan.

“Setiap kegiatan yang melibatkan dana yang diterima dari pemerintah, harus dilakukan audit secara internal terlebih dahulu.”

Kegiatan hari pertama kemudian ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah.

Pendidikan Berkualitas Dimulai dari Tata Kelola yang Baik

Memasuki hari kedua yang dilaksanakan di Gedung Timur Lantai 5, acara diawali dengan pembukaan dan sambutan Kepala PDF Ulya Al Fithrah Surabaya, Ust. Nashiruddin, M.M.

Beliau menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan semangat pengabdian, tetapi juga membutuhkan sistem pengelolaan yang profesional.

“Pendidikan yang baik bukan hanya membutuhkan semangat khidmah pendidiknya, melainkan juga tata kelola yang baik juga, sehingga tercapai tujuan pendidikan dan harapan Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy.”

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, Ust. Nashiruddin, S.Ud., M.Pd.I.

Beliau mengajak seluruh pendidik dan tenaga kependidikan untuk terus berkomitmen menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.

“Pondok hanya merumuskan, selebihnya amanah dan tanggung jawab adalah konsekuensi yang harus dihadirkan oleh diri sendiri.”

Beliau juga mengingatkan bahwa pendidikan di lingkungan Al Fithrah tidak hanya berlangsung di ruang kelas.

“Pendidikan di Al Fithrah ini tidak hanya di kelas, melainkan juga dalam wadhifah keseharian santri dalam bentuk pendidikan karakter, serta dalam kegiatan syiar yang berhubungan dengan masyarakat.”

Seminar Metode Mengajar dan Apresiasi bagi Pendidik

Sesi selanjutnya diisi dengan seminar metode mengajar yang disampaikan oleh Drs. H. Miftahul Jinan, Lc, dari Griya Parenting Indonesia yang juga menjabat sebagai Wakil Pengasuh Pondok Modern Al-Firdaus.

Dalam materinya, beliau menjelaskan bahwa mendidik bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai kepada peserta didik. Beliau mengilustrasikan hal tersebut melalui kisah tiga orang tukang sapu.

Tukang sapu pertama bekerja hanya sebagai rutinitas. Tukang sapu kedua memiliki motivasi membersihkan lingkungan. Sementara tukang sapu ketiga merasa pekerjaannya mulia karena merupakan amanah dari kepala daerah agar kotanya memperoleh penghargaan Adipura sekaligus menjaga kesehatan masyarakat. Menurut beliau, tukang sapu ketiga akan menjalankan tugasnya dengan kualitas yang jauh lebih maksimal karena memahami makna di balik pekerjaannya.

Beliau juga menekankan bahwa seorang pendidik harus memiliki bonding (kedekatan emosional) dengan murid agar nilai-nilai yang diajarkan dapat diterima secara utuh.

Setidaknya terdapat empat ciri seorang pendidik yang memiliki bonding yang baik dengan peserta didiknya, yaitu:

  • Murid merasa aman.
  • Murid merasa dicintai.
  • Murid merasa penting.
  • Murid merasa diterima.

Seluruh pendidik PDF Ulya Al Fithrah Surabaya tampak mengikuti seminar dengan penuh perhatian dan antusias.

Sebagai penutup rangkaian MUKERTA, panitia menyampaikan raport evaluasi pendidik sekaligus memberikan penghargaan kepada para pendidik terbaik dalam aspek kedisiplinan, keteladanan, dan keaktifan.

Melalui Musyawarah Kerja Tahunan (MUKERTA) Tahun Pelajaran 2026โ€“2027 ini, diharapkan seluruh hasil evaluasi dan perencanaan mampu menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat nilai-nilai salaf, serta menghadirkan tata kelola lembaga yang semakin profesional, inspiratif, dan berintegrasi demi kemaslahatan santri maupun lembaga.

Semoga acara ini dapat membawa manfaat perubahan ke arah kebaikan, baik kepada santri maupun lembaga. Aamiiin.

Rapat Khidmah Pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah

Senin-Selasa, 22-23 Juni 2026. Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya selenggarakan rapat khidmah pengurus. Rapat yang diselenggarakan di Gedung Timur Lantai 5ย  ini diikuti oleh semua jajaran tenaga pendidik dan kependidikan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Nampak hadir dalam rapat khidmah ini para pendidikan dan tenaga kependidikan dari tingkat RA Al Fithrah, MI Al Fithrah, PDF Wustha Al Fithrah, PDF Ulya Al Fithrah, Ma’had Aly dan MDT Jami’ah Al Fithrah.

Rapat khidmah yang dilaksanakan selama dua hari ini dibuka dengan bacaan Tawasul, Istighotsah, Maulid dan Doa fi hubby. Dalam hal ini dipimpin oleh Ust. H. Zainul Arif, S.Ud, Ust. H. Khoiruddin, S.Ud, Ust. H. Hadori, S.Ud, Ust. Syirojul Munir, S.Ud, dan Ust. Dr. H. Abdur Rosyid, M.Fil.I.

Mewujudkan Cita-Cita Besar

Sambutan oleh Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah disampaikan oleh Ust. Nashiruddin, S.Ud, M.Pd.I. Beliau menyampaikan bahwa dalam rapat khidmah ini akan disusun rencana kegiatan selama satu tahun ke depan. “Besar harapan kami terhadap doa, dukungan dan arahan panjenengan semua” kata beliau.

Beliau mengingatkan kembali tentang cita-cita besar dan harapan Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy terhadap Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

“Pondok pesantren ini perlu dikelola secara profesional, sehingga masyarakat melihat (keunggulan) pondok ini, tidak hanya melihat Hadratusy Syaikh” pesan beliau.

Secara umum, unit-unit lembaga di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah sudah terakreditasi baik oleh pihak stakeholder. RA Al Fithrah terakreditasi B, MI Al Fithrah terakreditasi A, PDF Ulya Al Fithrah terakreditasi A, Ma’had Aly Al Fithrah akreditasi A, Institut Al Fithrah terakreditasi B.

Sistem pendidikan di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah tidak hanya untuk belajar agama, melainkan juga ilmu umum, serta pengamalannya. Sesuai dengan jargon yang biasa digaungkan “Pendidikan agama menjadi tauladan dan pendidikan umum tidak ketinggalan”.

Untuk mencapai tujuan santri menjadi tauladan, setidaknya membutuhkan dua kekuatan; kekuatan ruhani dan kekuatan tata kelola yang baik.

Kekuatan ruhani kita jamak ketahui bisa berupa doa, kesungguhan dan keikhlasan hati. Sementara kekuatan tata kelola bisa berupa laporan-laporan yang terdokumentasikan dan manajemen yang jelas. Pelaporan dan transparansi ini tentu untuk menghindari adanya kepentingan pribadi, serta tercapainya cita-cita Al Fithrah.

Nasehat terhadap Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Sambutan penasehat dan mauidoh disampaikan oleh Ust. H. Wahdi Alawy, S.Ud. Beliau mengharapkan agar para pendidik dan tenaga pendidik sebagai pembantu dan penerima amanah Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy harus memiliki himmatun aliyah (kesungguhan yang tinggi) dan lebih banyak belajar lagi.

“Jangan hanya iktifa’an bima kaana” (merasa cukup dengan keadaan) pesan beliau.

Dalam melaksanakan amanah dan tanggung jawabnya, jangan jadi ‘pembantu’ yang buruk.

ุงู„ุฃุฌูŠุฑ ุงู„ุณูˆุก ู„ุง ูŠุนู…ู„ ุฅู„ุง ุจุงู„ุฃุฌุฑุฉ

“Seng estu. Seng temen. Lek nang kene, ojok itung-itungan bayaran. Insya Allah, Allah yang akan mencukupi. (Yang ikhlas. Yang sungguh-sungguh. Kalau di sini, jangan perhitungan bayaran. Insya Allah, Allah yang mencukupi)” pesan beliau.

Beliau berpesan juga agar para pendidik dan tenaga pendidikan untuk banyak membaca kitab. Mengingat bahwa Hadratusy Syaikh sendiri adalah pribadi yang rajin membaca, di manapun berada. “Jangan sampai orang menilai bahwa Al Fithrah hanya bisa manaqib saja” tegas beliau.

Acara dilanjutkan dengan sidang komisi per bidang kepengurusan dalam struktural pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Total ada empat bidang yang mengampu kepengurusan Al Fithrah Surabaya, yaitu Bidang Pendidikan, Bidang Kewadhifahan, Bidang Umum dan Administrasi dan Bidang Keuangan.

Merumuskan Program

Selama dua hari ini dilakukan diskusi mendalam terkait program-program yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan. Hasil pemaparan, pengayaan dan kesimpulan yang dihasilkan dalam sidang komisi ini kemudian dipaparkan Kepala bidang masing-masing dalam Sidang Pleno di hari kedua.

Dalam sesi ini, semua kepala pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya mengisi panggung. Tampak hadir Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Ust. Nashiruddin, S.Ud, M.Pd, Wakil Kepala Pondok I Ust. Ilyas Rahman, M.Pd, Wakil Kepala II Ustadzah Mufarohah, S.Ud, Kepala Bagian Pendidikan Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I, Kepala Bagian Umum dan Administrasi Ust. Mustaqim, M.Ag, Kepala Bagian Kewadhifahan Ust. M. Toha, Kepala Bagian Keuangan Ust. Nashruddin, S.Ud,

Semoga setiap agenda dan program yang telah dan akan dilaksanakan ini dapat membawa perbaikan dan kebaikan untuk Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah di masa depan. Aamiiin.

Al Fithrah Surabaya Wisuda 721 Santri, Pesan Menjaga Identitas Santri Menggema

SURABAYA โ€“ Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti pelaksanaan Wisuda Ke-24 Tahun Ajaran 2025/2026 Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya yang digelar pada 3โ€“4 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah ini dihadiri oleh segenap Keluarga Ndalem Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, dewan asatidz, wali santri, serta tamu undangan dari Kementerian Agama.

Pada hari pertama, hadir Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Imam Turmidi, S.Ag., M.H.I. Sementara pada hari kedua, hadir Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Surabaya, Fathul Mubin, S.Pd., M.Pd.I.

Sebanyak 721 santri resmi diwisuda yang terdiri atas 416 santri Program Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Wustha Al Fithrah, 266 santri PDF Ulya Al Fithrah, 14 santri Maโ€™had Aly Al Fithrah, dan 25 santri MDT Jamiโ€™ah Al Fithrah. Prosesi diawali dengan pembacaan Tawasul, Istighotsah, Maulid fi Hubby, serta pembacaan surat keputusan kelulusan. Hari pertama dilaksanakan wisuda santri putri dan hari kedua dilaksanakan wisuda untuk santri putra.

Perjalanan Panjang Menuju Ilmu

Dalam sambutannya, Mewakili Keluarga Ndalem Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Nyai Siera En Nadia El Ishaqia menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan para santri menyelesaikan pendidikan. Beliau menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengamalan ilmu yang lebih luas di tengah masyarakat.

“Kita ini saat pertama kali masuk ke dalam pondok pesantren ibarat gelas yang kosong. Perlahan, gelas itu kini telah terisi dengan banyaknya ilmu, disertai dengan pengalaman dan banyaknya pelajaran hidup yang bisa menjadi pegangan anak-anakku semua di luar sana. Apa yang telah kalian istikomahkan di dalam pondok, semoga bisa diistikomahkan di rumahโ€ pesan beliau.

Sementara pada Sambutan Kepala Pondok hari kedua, Ustadz Nashiruddin, M.Pd mengingatkan bahwa capaian para wisudawan lahir dari proses panjang yang penuh perjuangan. Menurutnya, setiap santri pernah berada pada fase sulit saat mempelajari kitab-kitab yang belum dipahami, namun akhirnya mampu bertahan hingga mencapai titik kelulusan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Keluarga Ndalem yang senantiasa memberikan doa dan dukungan kepada para santri. Selain itu, para lulusan diharapkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar ilmu yang diperoleh semakin berkembang dan berkelanjutan.

“Kami sangat berharap agar para santri terus melanjutkan pendidikan pada jenjang berikutnya. Apa yang telah diperoleh di pondok ini hendaknya diamalkan ketika berada di tengah masyarakat. Jika ingin sukses, maka harus dengan ilmu,” ujarnya.

Menjaga Identitas dan Martabat Santri

Sambutan mewakili wisudawan pada hari kedua disampaikan oleh Ahmad Hasan Hariri. Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar setelah lulus bukanlah meraih profesi tertentu, melainkan mempertahankan identitas sebagai santri.

“Yang susah bukan menjadi tentara atau dokter, tetapi tetap menjadi santri dan mempertahankan identitas santri,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu, khususnya penghormatan kepada guru sebagai bagian dari taโ€™dzimul ilmi. Menurutnya, keberhasilan seorang santri tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh keberkahan ilmu yang diperoleh melalui penghormatan kepada para pendidik, serta doa-doa yang tak pernah usai.

โ€œHari ini kita berdiri di tempat yang sama, tetapi setelah ini kita akan melangkah menuju jalan yang berbeda-beda. Meski langkah kita nanti tidak lagi berjalan berdampingan seperti hari ini, semoga kita tetap terhubung oleh doa dan nilai-nilai yang telah tumbuh di dalam tubuh kitaโ€ ujar Yunita Hikmatal Karimah dalam sambutannya mewakili wisudawati.

Momen haru semakin terasa ketika para wisudawan menerima medali dan sertifikat kelulusan yang diserahkan secara simbolis oleh pengasuh pesantren dan para guru. Sejumlah wali santri tampak meneteskan air mata sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan putra-putri mereka menyelesaikan pendidikan pesantren.

Ilmu yang Bermanfaat dan Pendidikan Berkelanjutan

Dalam sambutannya, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Surabaya, Fathul Mubin, menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan. Ia berpesan agar para lulusan terus mengajarkan Al-Qurโ€™an dan menjaga nama baik pesantren di mana pun berada.

“Kalau sudah lulus pondok, jangan sampai lupa mengajar, terutama mengajarkan Al-Qurโ€™an. Karena yang diajarkan adalah Al-Qurโ€™an,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi pada manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Menurutnya, salah satu faktor terbesar keberhasilan seseorang adalah doa orang tua yang menyertai setiap langkah perjuangan anak-anaknya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah senantiasa menanamkan ilmu yang mengantarkan santri untuk semakin mengenal Allah SWT, memperkuat akhlak, serta menumbuhkan semangat pengabdian kepada umat.

โ€œAyok kita bersinergi, bagaimana anak-anak kita ini menjadi anak-anak yang berilmu, bertakwa sekaligus berakhlakul karimah. Karena kita harus yakin dengan ilmu yang tinggi, dengan akhlak yang mantap, insya Allah kita bisa eksis di manapun kita berada. Karena janji Allah, dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11โ€ jelas Bapak Imam Turmudi mewakili Kepada Kanwil Kemenag Jawa Timur.

Selain prosesi wisuda, acara juga dimeriahkan dengan penampilan hadrah, pembacaan puisi, dan persembahan dari para santri sebagai bentuk penghormatan kepada guru serta orang tua. Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto wisuda.

Melalui wisuda ini, Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya berharap para lulusan dapat menjadi generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan masyarakat.