AlFithrah

Haul Ke-17 Hadratusy Syaikh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi: Lautan Dzikir dan Cinta di Surabaya

Surabaya (14 Februari 2026) Sabtu malam Ahad itu udara sejuk meliputi Surabaya. Hujan siang hingga sorenya masih menampakkan genangan air yang tersisa. Para jamaah berdatangan ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Mereka akan mengikuti kegiatan Majlis Haul Hadratusy Syaikh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi beserta dengan niat dan masing-masing hajatnya.

Hadratusy Syaikh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi adalah sosok guru yang bersahaja. Kedalaman ilmu dan keistikomahan beliau tiada dua. Tauladan akhlak beliau dikenal istimewa di hati para ulama dan muridnya.

Beliau adalah sosok sederhana dengan senyum indahnya. Tanda-tanda kewalian sangat nampak pada dirinya. Beliau mengantongi ciri wali yang disebutkan oleh Nabi.

الَّذِينَ إِذَا رُؤُوا ذُكِرَ اللَّهُ

“(Mereka adalah) orang-orang yang apabila dilihat, maka Allah diingat.”

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam Sunan Ibnu Majah (no. 4119) dan Al-Mu’jam al-Kabir karya Ath-Thabrani

Majlis Haul Hadratusy Syaikh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi bukan hanya dilaksanakan di Surabaya, melainkan juga di daerah-daerah lainnya. Di pesantren-pesantren, masjid-masjid, zawiyah-zawiyah, rumah-rumah dan tempat-tempat lainnya. Para muridin dan muhibin beliau merasa ‘wajib’ untuk menyelenggarakan majlis kirim doa sebagai bentuk menghidupkan silaturruhiyyah (hubungan ruhani) dan rasa syukur atas jasa-jasanya.

Dalam kesempatan tersebut, Habib Haydar Dliya’ Alaydrus menyampaikan bahwa majlis seperti ini adalah majlis yang sangat baik dan penuh keberkahan.

Beliau mengutip sebuah maqalah yang masyhur dalam literatur tasawuf, dinukil dalam Ihya Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali:

اِعْلَمْ لَا شَيْءَ أَنْفَعُ لِلْقَلْبِ مِنْ ذِكْرِ الصَّالِحِينَ

“Ketahuilah, tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada mengingat (kisah) orang-orang shalih.”

“Mereka hidup di zaman kita. Ada HP dan laptop juga. Tapi mereka sukses—tidak terdominasi olehnya. Mereka berhasil meraih kedekatan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tutur beliau.

Dzikir: Jalan Terdekat Menuju Allah

Sebagaimana kita ketahu, Kyai Asrori telah membentuk Al Khidmah sebagai wadah untuk bersama-sama berdzikir kepada Allah. Beliau menghidupkan gelora dzikir bersama melalui kegiatan-kegiatan majlis dan haul di berbagai daerah. Dalam nasihatnya, Habib Haydar juga mengutip dawuh:

أَقْرَبُ الطُّرُقِ إِلَى اللَّهِ الذِّكْرُ

“Dzikir kepada Allah adalah jalan yang paling dekat menuju Allah.”

Pernyataan ini disampaikan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin bahwa dzikir adalah sarana paling efektif menghadirkan kesadaran ilahiah dalam hati.

Dzikir bukan sekadar lafaz, melainkan kesadaran penuh. Dalam kalimat Lā ilāha illā Allāh, para ulama menjelaskan tingkatan makna:

1. Lā ma‘būda illā Allāh – Tiada yang berhak disembah selain Allah.

2. Lā maqṣūda illā Allāh – Tiada tujuan selain Allah.

3. Lā mawjūda illā Allāh – Tiada yang wujud hakiki kecuali Allah.

Tingkatan terakhir adalah maqam para wali; mereka hadir secara lahiriah di tengah manusia, namun hati mereka senantiasa bersama Allah.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Yunus ayat 62:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Warisan Dakwah Moderat dan Penuh Hikmah

Dzikir membentuk pola pikir dan tindak laku Hadratusy Syaikh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi. Beliau dikenal sebagai ulama moderat, berideologi lurus, serta berdakwah dengan hikmah dan kasih sayang.

Warisan ini juga menjadi visi dan misi organisasi Al Khidmah, yang beliau rintis. Prinsipnya sederhana namun mendalam:

“Biarkan ada di mana-mana, tapi jangan dibawa ke mana-mana.”

Makna kehadiran spiritual ini selaras dengan ungkapan dalam syarah Al-Hikam al-Ata’iyyah karya Ibn ‘Athaillah:

الْكَوْنُ كُلُّهُ حَضْرَةٌ إِذَا كَانَ مَعَهُ الْحُضُورُ

“Seluruh alam adalah hadrah (kehadiran Ilahi), apabila bersamanya ada hudhur (kesadaran hati).”

Keikhlasan menjadi fondasi. Dalam Nadhom Matan Zubad disebutkan:

وَالْحَقُّ أَنْ تَكُونَ بِالْإِخْلَاصِ

فِي الْقَوْلِ وَالْأَفْعَالِ وَالْقَصْدِ

“Dan yang benar itu adalah engkau berpegang pada keikhlasan, dalam ucapan, perbuatan, dan niat.”

Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nur ayat 37:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ…

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah…”

Menjaga Warisan, Merawat Majlis

Di akhir mauizhahnya, Habib Haydar mengajak seluruh jamaah untuk terus merawat majlis, menjaga pesantren, dan menghidupkan warisan spiritual Hadratusy Syaikh. Di antara tanda cinta yang hakiki adalah berusaha meniru dan menauladani sang kekasih, baik dalam ramai maupun kesendirian. Muwafaqotul habib fi al-masyhad wa al-maghib.

Haul ke-17 ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan momentum muhasabah dan pembaruan niat. Sebab sebagaimana para wali mengajarkan, nilai sebuah majlis bukan pada keramaiannya, melainkan pada kehadiran hati di hadapan Allah.

Sosialisasi Ma’had Aly Al-Fithrah: Kenalkan Pendidikan Tinggi Pesantren kepada Santri Kelas XII

Pengurus dan BEM Ma’had Aly Al-Fithrah menggelar kegiatan sosialisasi Ma’had Aly kepada santri PDF Ulya Al Fithrah kelas XII Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 10 Februari 2026 untuk santri putra dan Rabu, 11 Februari 2026 untuk santri putri, bertempat di Pendopo Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah setelah makan siang.

Kegiatan sosialisasi ini bertujuan memberikan gambaran dan wawasan kepada santri kelas XII terkait pilihan pendidikan lanjutan setelah lulus. Ma’had Aly Al Fithrah diperkenalkan sebagai salah satu opsi pendidikan tinggi berbasis pesantren, khususnya bagi santri yang ingin melanjutkan studi dengan tetap menjaga tradisi keilmuan dan nilai-nilai kesantrian.

Acara dimulai dengan pembukaan yang dilanjutkan dengan pembacaan tawassul, istighatsah, dan shalawat fi hubbi. Selanjutnya, seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Ma’had Aly Al-Fithrah, kemudian disusul pemutaran video profil Ma’had Aly sebagai pengantar pengenalan institusi.

Sejarah Ma’had Aly Al Fithrah

Dalam sambutannya, Mudir ‘Am Ma’had Aly Al-Fithrah, Ust. Abdullah, menyampaikan bahwa Ma’had Aly Al-Fithrah telah berdiri sejak tahun 2007, pada masa Hadhratus Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori masih hidup. Secara resmi, Ma’had Aly menjadi institusi pendidikan formal pada tahun 2009 dan memperoleh akreditasi A pada tahun 2017. Hingga saat ini, Ma’had Aly Al-Fithrah tetap konsisten menjaga mutu pendidikannya, dengan status Akreditasi A (Mumtaz).

Lebih lanjut, Ust. Abdullah menjelaskan bahwa Ma’had Aly memiliki kekhasan yang membedakannya dengan perguruan tinggi pada umumnya. Ma’had Aly Al-Fithrah hanya berfokus pada satu takhassus, yakni tasawuf dan tarekat, dengan penekanan kajian pada turats keilmuan Islam. Meski berstatus pendidikan tinggi, nilai-nilai kesantrian tetap dijaga dan menjadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa Ma’had Aly. Menurutnya, santri yang memiliki jiwa pesantren akan menemukan kecocokan dalam sistem pendidikan Ma’had Aly.

Harapan Besar di Ma’had Aly Al Fithrah

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Kepala Kurikulum PDF Ulya Al-Fithrah, Ust. Dzulfikar, S.Ud. Ia menyampaikan harapannya agar sebagian santri kelas XII dapat melanjutkan pendidikan ke Ma’had Aly. Menurutnya, Al-Fithrah memiliki prospek besar di masa depan seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap pendidikan pesantren terutama di Al-Fithrah. Hal tersebut membuka peluang bagi santri Pondok Pesantren Al-Fithrah terutama Ma`had Aly Al Fithrah untuk terus berkembang, termasuk di Al-Fithrah daerah-daerah, sehingga dibutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni sebagai penunjang.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi talkshow, sharing, dan tanya jawab bersama alumni Ma’had Aly. Sesi ini dipandu oleh seorang host guna menjaga suasana diskusi tetap kondusif dan terarah. Melalui sesi ini, para santri diberi kesempatan untuk menggali informasi secara lebih mendalam terkait Ma’had Aly.

Pada sesi pertama, pembahasan difokuskan pada sistem pendidikan di Ma’had Aly Al Fithrah, meliputi persiapan yang perlu dilakukan bagi calon mahasiswa serta berbagai kegiatan akademik dan kepesantrenan yang dijalani selama masa studi.

Sesi kedua membahas tentang pengabdian (khidmah), di mana santri Ma’had Aly diwajibkan untuk mengabdi sebagai bentuk pengamalan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di pesantren. Para alumni menekankan pentingnya khidmah dalam membentuk karakter dan tanggung jawab seorang santri.

Budaya Penelitian Ma’had Aly Al Fithrah

Sesi terakhir Sosialisasi Ma’had Aly Al Fithrah membahas aspek penelitian di Ma’had Aly. Dijelaskan bahwa Ma’had Aly selain memiliki lingkungan disksui yang intens, juga memiliki budaya penelitian sebagaimana perguruan tinggi pada umumnya, dengan adanya bimbingan dan arahan bagi mahasiswa dalam melaksanakan penelitian akademik.

Dengan hasil Akreditasi Unggul, Ma’had Aly Al Fithrah siap memberikan layanan pendidikan dan pengajaran kepada para santri, terutama yang ingin mendalami tasawuf dan tarekat. Ma’had Aly Al Fithrah juga membuka peluang lebar bagi para santri, dosen, peneliti dan masyarakat umum untuk memasukan tulisannya di Jurnal Putih.

Pendaftaran Santri Baru Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya tahun ajaran 2026-2027 M / 1447-1448 H. dapat dilihat di website: https://psb.alfithrah.net/

Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan santri kelas XII PDF Ulya Al-Fithrah memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai Ma’had Aly Al-Fithrah serta dapat menjadikannya sebagai salah satu pilihan dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Mutih: Agar Puasa Ramadhan Lebih Bermakna

Tak lama lagi Ramadhan tiba. Umat Islam menyambutnya dengan bahagia. Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Bulan diturunkannya Alquran. Bulan untuk berpuasa dan segala macam ibadah Allah mudahkan untuk dilakukan.

Ramadhan adalah waktunya untuk sama-sama merasakan apa yang orang tidak berpunya rasakan. Kita diwajibkan berpuasa dan berlapar-lapar selama berpuasa.

Dalam kenyataannya, lapar kita di bulan Ramadhan adalah pada saat siang hati saja, malamnya kebanyakan kita dalam keadaan kenyang. Puasanya hanyalah berganti jadwal makan aja. Sementara porsi makannya sama.

Oleh karenya, para guru menganjurkan untuk mutih. Tarak istilah lainnya. Tarak berasal dari kata berbahasa Arab taraka yang berarti meninggalkan. Dalam hal ini, tarak bermakna meninggalkan atau menjauhi makan makanan yang mengandung nyawa (hewani).

Mutih Sebagai Instrumen Mendekatkan diri Kepada Ilahi

Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’roni dalam Kitab Al-Anwar Al-Qudsiyah nya mengatakan bahwa memperbanyak lapar adalah bagian dari pada adab seorang murid dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini beliau mengatakan:

إِنَّ أَرْكَانَ الطَّرِيقِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الْجُوعُ وَالْعُزْلَةُ وَالسَّهَرُ وَقِلَّةُ الْكَلَامِ. فَإِذَا جَاعَ الْمُرِيدُ تَبِعَتْهُ الْأَرْكَانُ الثَّلَاثَةُ الْبَاقِيَةُ بِالْخَاصِّيَّةِ، فَمِنْ شَأْنِ الْإِنْسَانِ إِذَا جَاعَ أَنْ يَقِلَّ كَلَامُهُ وَيَكْثُرَ سَهَرُهُ وَيُحِبَّ الْعُزْلَةَ عَنِ النَّاسِ.

“Sesungguhnya pilar-pilar tarekat itu ada empat; lapar, menyendiri, berjaga dan sedikit bicara. Apabila seorang murid merasa lapar, maka tiga pilar lainnya akan secara otomatis mengikutinya. Memang sudah menjadi tabiat manusia, apabila ia lapar, maka ia sedikit bicaranya, lebih banyak terjaganya, dan ia cenderung menyukai menyendiri dari manusia lainnya.” (Anwarul Qudsiyah, Al-Haramain, 38-39).

Dalam praktiknya, puasa mutih bukanlah cara lapar ekstrem dengan tidak makan sama sekali. Mutih adalah komitmen pribadi untuk hanya mau makan makanan yang nabati saja. Nafsu makan ada, tapi tidak dengan memenuhinya. Mutih adalah cara kecil agar ‘tetap’ lapar meski sudah makan.

Tidak ada tatacara khusus dalam mutih yang diamalkan oleh para murid Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah Al-Utsmaniyyah. Mereka berpuasa sebagaimana mestinya. Hanya saja ketika waktu sahur dan berbuka, mereka membatasi diri untuk tidak mengonsumsi semua makanan yang ada.

Setiap bulan Ramadlan tiba, para murid –terutama yang telah berbai’at TQN Al-Utsmaniyyah dimana Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqy adalah mursyidnya–, di-anjurkan [baca: didawuhi] untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang berasal dari makhluk yang bernyawa, atau yang salah satu campuran bahan pembuatannya terdapat unsur hewani. Ritual ini disebut dengan mutih atau tarak dalam bahasa Jawa.

Singkatnya, mutih, baik dilaksanakan ketika puasa ataupun ketika tidak berpuasa, adalah bertujuan untuk membatasi diri dari banyak makan dan agar tubuh tetap lapar. Dalam keadaan lapar itu diharapkan, tubuh dapat memperbanyak mendekatkan diri kepada Ilahi, sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Abu Sulaiman Ad-Daroni yang dikutip oleh Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’roni:

وَكانَ أَبُو سُلَيْمانَ الدَّارانِيُّ يَقُولُ: «مِفْتاحُ الدُّنْيا الشِّبَعُ، وَمِفْتاحُ الآخِرَةِ الجُوعُ» يَعْنِي أَعْمالَها.

Dan Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Kunci (kesibukan dan ketergantungan pada) dunia adalah kenyang, dan kunci akhirat adalah lapar,” maksudnya adalah amal-amal untuk akhirat.

Waktu Pelaksanaan Mutih

Bagi jamaah laki-laki, mutih dilakukan mulai memasuki tanggal 21 Sya’ban. Di tahun ini akan dimulai sejak Ahad malam Senin, 8 Februari 2026 M. Sedangkan jamaah perempuan memulai mutihnya pada tanggal 1 Ramadlan. Ritual mutih dilakukan sampai bulan Ramadlan selesai, kecuali malam Jum’at pada bulan Ramadlan.

Artinya, setiap malam Jum’at bulan Ramadlan, mereka ‘libur’ serta tidak melakukan ritual mutih. Sebab, hari Jum’at –yang dimulai sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis– adalah hari raya mingguan bagi umat Islam. Nisbatnya sebuah hari raya, mereka tak mempunyai pantangan apapun mengenai makanan apa yang tidak boleh dikonsumsi.

Namun pada malam (Jum’at) itu, para murid ‘melakukan ritual lain’, yaitu membaca tiga macam shalawat yang telah ditentukan, yaitu Sholawat Habibil Mahbub, Sholawat Thibbil Qulud dan Sholawat Qod Dloqot, masing-masing dibaca sebanyak 1000 kali. Meskipun begitu, mutih bagi jamaah lelaki yang dimulai pada 10 hari (terakhir) bulan Sya’ban tidak ada ‘liburnya’, meskipun pada malam Jum’at.

Tujuan Mutih

Ritual mutih dilakukan agar ketika berbuka puasa, mereka tidak bersenang-senang dan ‘mengumbar’ hawa nafsunya dengan makanan ataupun minuman yang lezat. Sehingga, kemungkinan kekenyangan yang dapat mengakibatkan nafsu kembali menjadi kuat setelah seharian nafsu dikekang dengan berpuasa, bisa diminimalisir.

Tujuan utama mutih adalah untuk riyadhoh (melatih jiwa), mujahadah (memerangi nafsu), taqliluth thoam (menyedikitkan makan) agar hawa nafsu bisa dikendalikan, semangat beribadah (Jawa: rikat) dan agar dibersihkan dari pengaruh-pengaruh makanan syubhat dan haram.

Oleh karenanya, selain agar puasa Ramadhan lebih bermakna, perintah mutih dari Guru Mursyid kepada murid lebih pada sisi menghasilkan kesempurnaan bagi murid. Jika dirasa bermanfaat kemudian ia meninggalkan, maka ia termasuk melakukan adab yang buruk (su’ul adab).

Referensi:

Anwarul Qudsiyah, Sangkapura, Al-Haramain, 38-39

Surat Edaran Maklumat Mutih 1447 H

Majlis Dzikir, Maulidur Rasul SAW & Haul Akbar Al Fithrah 2026 Berlangsung Khidmat dan Penuh Makna

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya kembali menjadi pusat berkumpulnya ratusan ribu jamaah dari berbagai penjuru Indonesia dalam Majlis Dzikir, Maulidur Rasul SAW, dan Haul Akbar, yang diselenggarakan pada Ahad pagi, 06 Sya’ban 1447 H / 25 Januari 2026 M. Kegiatan akbar ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan, nuansa mahabbah, serta semangat birrul walidain dan khidmah kepada para masyayikh.

Rangkaian Acara Pagi yang Sarat Dzikir dan Doa

Acara diawali dengan pembacaan Al-Fatihah yang dipimpin oleh KH. Ali Syairozi (Lamongan), dilanjutkan Istighotsah oleh KH. Abdul Kholiq (Jawa Tengah). Suasana semakin khidmat saat Surat Yasin dilantunkan oleh Mas Fadhol Al Abror (Gresik), kemudian disambung Tawassul Manaqib oleh KH. Abu Althof (Pekalongan).

Pembacaan Manaqib disampaikan oleh Tim Santri Al Fithrah, lalu ditutup dengan Doa Manaqib oleh KH. Najib Zamzami (Kediri). Rangkaian dzikir berlanjut dengan Tahlil dan Talqin yang dipimpin KH. Mujib Qulyubi (Jakarta) serta Doa Tahlil oleh Habib Najib bin Hasan Al Haddad.

Puncak rasa cinta kepada Rasulullah SAW terasa dalam Maulidur Rasul SAW yang dilantunkan oleh santri Al Fithrah bersama para habaib, kemudian ditutup dengan Doa Maulid oleh Habib Hamid bin Salim Mauladawilah (Malang).

Sambutan, Mauidhoh Hasanah, dan Ziarah Maqbarah

Sambutan keluarga ndalem disampaikan oleh KH. Muhammad Ayn El Yaqin Al Ishaqy dan Habib Abbas bin Abu Bakar Al Haddad (Pekalongan). Sementara sambutan mewakili panitia disampaikan oleh H. Muhammad Uripan, Ketua Umum Jamaah Al Khidmah Indonesia. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan ahlan wa sahlan kepada seluruh jamaah, terima kasih kepada Keluarga Ndalem, para panitia, serta unsur Forkopimda atas dukungan dan izin penyelenggaraan acara, sekaligus permohonan maaf atas segala kekurangan selama pelaksanaan haul.

Panitia sudah berkoordinasi dengan pihak berwajib, teman-teman Ukhsafi Copler Community untuk memastikan keamanan, kenyamanan dan kekhusyuan selama majlis berlangsung. Adapun jika terdapat ketidaknyaman dari jamaah yang hadir, warga ataupun pengguna jalan semoga lebih diperbaiki lagi di tahun yang akan datang.

Mauidhoh hasanah disampaikan oleh Dr. Syaikh Abdul Qodir Al-Kattani dari Maroko, yang ceramahnya diterjemahkan oleh Habib Abbas bin Abu Bakar Al Haddad. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyinggung karya beliau Shofwatal Ahadits Nabawiyah, kitab ringkasan hadits-hadits shahih dari Kutubus Sittah yang disusun selama lebih dari 20 tahun berdasarkan hadits yang disepakati kesahihannya.

Syaikh Abdul Qodir Al-Kattani juga menyampaikan doa dan kesaksian tentang keistiqamahan Habib Umar Al-Jilani, yang wafat dalam perjalanan dakwah menuju Haul Akbar Al Fithrah pada Jumat, 23 Januari 2026 M / 04 Sya’ban 1447 H. Beliau dikenal sebagai sosok yang siap menghadapi perpisahan bahkan kematian demi dakwah, serta memiliki kedekatan khusus dengan Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy. Sepeninggal Romo Kyai Asrori, Habib Umar Al-Jilani diminta untuk terus membersamai Jamaah Al Khidmah, bahkan menganggap putra-putri beliau sebagai anak sendiri.

Acara ditutup dengan Doa Penutup bi Haqqil Fatihah oleh KH. Husni Mubarok (Surabaya), dilanjutkan Ziarah Maqbarah yang diikuti para habaib sepuh dan keluarga ndalem, serta salam penutup “Salamullah Ya Sadat” yang dipimpin Habib Umar Assegaf.

Menuju Haul Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy

Sebagai penutup rangkaian besar ini, jamaah juga diingatkan akan Haul ke-17 Hadratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy, pendiri Jamaah Al Khidmah, yang akan diselenggarakan pada Sabtu malam Ahad, 27 Sya’ban 1447 H / 14 Februari 2026 M.

Majlis Haul Akbar Al Fithrah bukan sekadar peringatan, tetapi momentum menyambung sanad cinta, doa, dan pengabdian kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, serta para wali dan ulama pewaris risalah.

Semoga kita semuanya dipertemukan dengan kegiatan Haul Akbar Al Fithrah di tahun-tahun selanjutnya. Aamiiin

Haul Akbar Al Fithrah: Bukti Bakti Kepada Orang Tua

Haul Akbar Al Fithrah sering dikenal sebagai majelis doa untuk Kanjeng Syaikh, Sunan Ampel,KH. Muhammad Ustman Al Isahqy Yai Sepuh, dan KH. Asrori Al-Ishaqy. Namun sejatinya, akar utama haul adalah mendoakan kedua orang tua. Para masyayikh hanyalah wasilah dan merk yang mengingatkan umat akan kewajiban agung bernama birrul walidain.

Sebagaimana dawuh KH. Asrori Al-Ishaqy, keberkahan hidup dan kemudahan urusan sangat erat kaitannya dengan bakti kepada orang tua. Doa orang tua—terutama yang telah wafat—adalah pintu langit yang tidak pernah tertutup. Maka haul bukan sekadar tradisi, tetapi majelis penuh harap agar Allah melimpahkan rahmat dan ampunan kepada kedua orang tua kita.

Susunan Acara Haul Akbar Al Fithrah 2026

Susunan acara dalam Majlis Haul Akbar Al Fithrah adalah rangkaian kegiatan kebaikan. Di dalamnya diisi dengan Majlis Dzikir, Maulidurrasul SAW & Haul Akbar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada Sabtu malam, 06 Sya’ban 1446 H / 24 Januari 2026 adalah sebagai berikut:

1. Al-Fatihah oleh Ust. H. Wahdi Alawi (Surabaya)

2. Istighotsah oleh KH. Anwari (Grobogan)

3. Khotmil Qur’an oleh Tim Santri Al Fithrah

4. Al-Ikhlas 7x, Mu’awwidzatain 1x, Al-Fatihah 1x & Al-Baqarah ayat 1–5 oleh KH. Subhan Syukur (Makassar)

5. Doa Khotmil Qur’an oleh KH. Habibullah (Demak)

6. Dzikir Fida’ (1650–3200x ±15 menit) oleh KH. Munir Abdullah (Grobogan)

7. Doa Tahlil oleh KH. Badrus Salam (Singapura)

8. Doa Birrul Walidain oleh KH. Ulil Albab (Pemalang)

9. Maulidur Rasul SAW oleh Tim Santri Al Fithrah & Para Habaib

10. Doa Maulidur Rasul SAW oleh Habib Umar bin Abdullah Assegaf

11. Sambutan & Ungkapan Duka atas Wafatnya Al-Habib Umar Al-Jilany oleh KH. M. Husni Mubarok

12. Doa Bihaqqil Fatihah oleh KH. Fadhil (Palembang)

13. MC & Pengatur Mic oleh Tim Panitia

Berbakti Kepada Orang Tua: Dalil dan Rahasia Doa yang Paling Mustajab

Hadrastusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy mengatakan bahwa majlis Haul Akbar Al Fithrah ini ada yang ‘menungganggi’. Orang-orang ini sebenarnya tidak hanya menghauli Kanjeng Syaikh ataupun Sunan Ampel, melainkan mendoakan diri sendiri dan kedua orang tuanya.

Banyak muatan isi doa yang dibaca dalam Haul Akbar Al Fithrah adalah mendoakan orang tua. Mendoakan orang tua adalah merupakan di antara ciri anak sholeh. Allah SWT berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”

(QS. Al-Isra: 23)

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa ridha Allah tergantung pada ridha orang tua. Inilah sebabnya doa birrul walidain menjadi inti dalam Haul Akbar Al Fithrah. Sebagaimana dawuh para kiai, doa yang dibaca oleh banyak orang saleh, di majelis dzikir, dengan niat bakti kepada orang tua, sangat dekat dengan ijabah.

Haul Akbar Al Fithrah bukan hanya mengenang para wali dan ulama, tetapi menghidupkan kembali kesadaran umat bahwa jalan paling cepat menuju keberkahan adalah berbakti dan mendoakan orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.