PDF Ulya Al Fithrah

Bahtsul Masail: Dilema Membatalkan Shalat (Bagian 1)

Soal

Permasalahan yang diangkat dalam musyawarah ini adalah dilema membatalkan shalat. Kasusnya, Ibu nyai yang biasa jadi imam terlambat datang. Waktu shalat akan segera habis, maka majulah santri senior menjadi imam. Ternyata, dipertengahan shalat datanglah Ibu Nyai.

Pertanyaan yang diangkat dalam bahtsul masail ini ada dua. Pertama, bagaimanakah hukum membatalkan shalat sesuai permasalahan di atas? Kedua, apakah dibenarkan tindakan santri membatalkan shalat tadi menurut pandangan fikih?

Sebagaimana diketahui bahwa shalat adalah ibadah yang mengharuskan tumakninah pelakunya. Bergerak lebih dari tiga kali dihukumi dapat membatalkan shalat. Lantas, apakah diperbolehkan membatalkan shalat gara-gara kasus seperti di atas?.

Hal yang memperbolehkan membatalkan shalat

Ibadah shalat dibuka dengan takbiratul ihram dan ditutup dengan salam. Ketika seseorang telah melakukan takbiratul ihram, maka menjadi haram melakukan hal-hal yang membatalkan shalat. Melakukan gerakan di luar gerakan shalat misalnya. Jika ia sampai bergerak lebih dari tiga kali, maka shalatnya batal.

Hukum asal membatalkan shalat adalah haram. Namun, dalam literatur fiqh disebukan beberapa keadaan yang memperbolehkan untuk membatalkan shalat. Berikut penjelasannya dalam Al-Fiqhu wa Adillatuhu Juz 2 hlm. 1053-1054.

مَا تُقْطَعُ الصَّلَاةُ لِأَجْلِهِ: قَدْ يَجِبُ قَطْعُ الصَّلَاةِ لِضَّرُوْرَةِ، وَقَدْ يُبَاحُ لِعُذْرٍ. أَمَّا مَا يَجِبُ قَطْعُ الصَّلَاةِ لَهُ لِضَرُوْرَةٍ فَهُوَ مَا يَأْتِيْ: تُقْطَعُ الصَّلَاةُ وَلَوْ فَرْضًا بِاسْتِغَاثَةِ شَخْصٍ مَلْهُوْفٍ، وَلَوْ لَمْ يَسْتَغِثْ بِالْمُصَلِّيْ بِعَيْنِهِ، كَمَا لَوْ شَاهَدَ إِنْسَاناً وَقَعَ فِي الْماَءِ، أَوْ صَالَ عَلَيْهِ حَيَوَانٌ، أَو اِعْتَدَى عَلَيْهِ ظَالِمٌ، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى إِغَاثَتِهِ. وَلَا يَجِبُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ قَطْعُ الصَّلَاةِ بِنِدَاءِ أَحَدِ اْلأَبْوَيْنِ مِنْ غَيْرِ اِسْتِغَاثَةٍ؛ لِأَنَّ قَطْعَ الصَّلَاةِ لَا يَجُوْزُ إِلَّا لِضَرُوْرَةٍ.  وَتُقْطَعُ الصّلَاةِ أَيْضاً إِذَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّ الْمُصَلِّي خَوْفُ تَرَدِّيِ أَعْمىَ، أَوْ صَغِيْرٍ أَوْ غَيْرِهِمَا فِي بِئْرٍ وَنَحْوِهِ. كَمَا تُقْطَعُ الصَّلَاةُ خَوْفَ انْدِلَاعِ النَّارِ وَاحْتِرَاقِ الْمَتَاعِ وَمُهَاجَمَةِ الذَّئِبِ الْغَنَمِ؛ لَمَّا فِي ذَلِكَ مِنْ إِحْيَاءِ النَّفْسِ أَوِالْمَالِ، وَإمْكَانِ تُدَارِكُ الصَّلَاةُ بَعْدَ قَطْعِهَا، لِأَنَّ أَدَاءَ حَقِّ اللهِ تَعَالَى مَبْنِيٌّ عَلَى الْمُسَامَحَةِ

Membatalkan shalat adakalanya wajib dan adakalanya boleh. Wajibnya seseorang untuk membatalkan shalat karena ada kondisi darurat yang mengharuskan mengakhiri shalat walaupun belum selesai. Sementara kebolehan meninggalkan shalat karena adanya udzur.

Berikut kondisi darurat yang mewajibkan seseorang meninggalkan shalat,

Pertama, menolong orang lain yang berpotensi kehilangan nyawa; orang yang tenggelam, diterkam hewan, terdzalimi. Juga, orang buta dan anak kecil yang bias terjatuh ke dalam sumur.

Kedua, menjaga kehilangan harta benda yang dimilikinya. Misal  menjaganya dari kebakaran atau menjaga hewan ternak yang hendak dimangsa hewan buas.

Kedua hal ini harus disertai dugaan kuat, ia masih bisa melaksanakan shalat sesuai waktunya. Bagaimanapun, shalat adalah perintah Allah untuk hambanya yang bersifat wajib. Dan melaksanakan perintah Allah Swt adalah kemutlakan yang tidak bisa ditawar dengan kepentingan apapun.

Hari Santri 2023: Santri Sebagai Pilar Pembangun Bangsa

Amanat inspektur apel menjadi acara selanjutnya. Ust, Nashiruddin menyampaikan beberapa hal penting terkait apel hari santri kali ini. Pertama, apel ini sebagai wujud terimakasih pada para pejuang terdahulu dan simbol Syukur atas pertolongan Allah Swt, dalam mempertahankan kemerdekaan.

Kedua, tema hari santri “jihad santri jayakan negeri”, mencerminkan semangat dedikasi dan kontribusi santri dalam mengawal kemajuan bangsa. Ketiga, jihad santri tak harus diartikan dengan perjuangan fisik. Jihad santri bisa berwujud perjuangan spiritual, intelektual, dan moral.

Keberadaan santi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, punya dua peran utama. Pertama sebagai penjaga dan pelestaari nilai-nilai agama dan budaya di Indonesia. Kedua, santri juga menjadi pelopor untuk memajukan aspek pendidikan, sosial dan lainnya di manapun mereka bertempat tinggal.

Di penghujung amanatnya, Ust. Nashir mendoakan para santri di seluruh negeri ini agar senantiasa menjadi pilar-pilar kebaikan dalam membangun bangsa.

Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Hari Santri dan Ayo Mondok, diringi dengan kirap bendera merah putih raksasa. Pembacaan Do’a oleh Ust. H. Adenan menjadi penutup seremonial apel.

Selepas pembacaan do’a dan inspektur apel meninggalkan apel, acara ini tak langsung usai. Setelah santri dipersilahkan duduk, acara dilanjutkan dengan pelepasan balon dan burung, sebai simbol kebebasan. Ikut memeriahkan apel tahun ini, Gus Hafidzul Ahkam dari Syubbanul Muslimin. Gus Ahkam menyumbang beberapa lagu religi untuk menghibur para santri.

22 Oktober akan datang lagi tahun depan. Logo hari santri yang baru akan diluncurkan beserta taglinenya. Apel serupa pun akan diadakan beserta amanat yang menyertainya. Sampai tanggal itu tiba, waktu terus berjalan. Dan, jihad santri semoga tak hanya jadi slogan-slogan yang terpampang di baliho dan media lainnya.

Foto: Al Wava Media

dfn

Hari Santri 2023: Santri Al Fithrah Surabaya Laksanakan Apel Hari Santri

Hari Santri, sejak mulai ditetapkan menjadi agenda yang wajib dirayakan di berbagai pesantren. Begitu juga di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Surabaya. Nyaris satu bulan, tim Paskibraka santri Al Fithrah Surabaya menyiapkan apel hari santri 2023.

Apel hari santri 2023 diadakan hari  Minggu, 22 Oktober 2023. Santri Al Fithrah –  tingkat RA, MI, PDF Wustho, PDF Ulya, MDTJ dan Ma’had Aly mengikuti apel ini. Berlokasi di lapangan ponpes Al Fithrah, apel ini juga dihadiri oleh semua pendidik dan tenaga kependidikan ponpes Al Fithrah.

Apel ini dimulai pukul 07.00 WIB. Sebelum apel dimulai, drum band santri MI Al Fithrah menampilkan Ya Lal Wathan dan Hari Santri. Apel dimuai dengan pembacaan Tawasul oleh Ust. H. Sholeh. Dilanjutkan dengan seremonial apel. Ust. Nashiruddin, Kepala Bagian Pendidikan, menjadi inspektur dalam apel kali ini.

Berbeda dengan upacara 17 Agustus lalu. Dalam apel kali ini, pengibar bendera hanya terdiri tiga orang, tanpa diiringi pasukan lain. Latihan berhari-hari terbayar tuntas dengan lancarnya proses pengibaran bendera diiringi dengan lagu Indonesia Raya.

Selepas dilaksanakan pengibaran bendera merah putih, acara dilanjutkan dengan pembacaan teks Pancasila oleh inspektur apel. Pembacaan ini diikuti oleh seluruh peserta apel. Kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Ya Lal Wathan oleh seluruh peserta apel.

Acara selanjutnya, pembacaan Malhudzat oleh Ust. Mustaqim. Malhudzat adalah tuntunan dan bimbingan Hadratusy Syaikh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy, pendiri ponpes Al Fithrah. Selapas itu, pembacaan teks resolusi jihad oleh Ust. Agus Saputra.

Penampilan santri menjadi acara selanjutnya. Banu Thabrani dan Fayruz Zamzami membacakan Puisi tentang bagaimana resolusi jihad menjadi bagian sejarah dalam mempertahankan kemerdekaan.

Foto: Al Wava Media

dfn

Menjadi Santri, Menggali Potensi, Meraih Prestasi

Santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, terus menuai prestasi. Para santri tidak hanya sekedar menjadi partisipan dalam berbagai lomba dan kompetisi, baik yang berkaitan dengan turats ataupun umum, dari tingkat regional hingga nasional.

Meskipun hari-harinya disibukkan dengan mengaji dan wadhifah, para santri tetap bisa menggali dan menyalurkan potensi bakatnya. Para santri bisa mengikuti berbagai ekstrakurikuler yang diselenggarakan di ponpes Al Fithrah.

Ekstrakurikuler yang diadakan, diisi oleh ahli dibidangnya. Sehingga, para santri tidak hanya menyalurkan bakat, tapi juga mengukir prestasi yang membanggakan. Meskipun dengan persiapan yang serba mepet dan terbatas.

Terbaru, santri tingkat PDF Ulya Al Fithrah berhasil meraih juara dalam Kompetisi Nasional

Bahasa Arab & Bahasa Inggris tingkat SMA sederajat. Kompetisi ini diadakan oleh Lembaga Pengembangan Bahasa Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Jombang.

14 Santri dari kelas XI dan XII PDF Ulya ikut berpartisipasi dalam kompetisi yang diadakan tanggal 05 Oktober 2023 di Unhasyi. Khitobah, speech, news anchor dan arabic champion adalah kategori kompetisi yang diikuti.

Dari empat kategori itu, dua di antarnya berhasil dimenangkan oleh santri Al Fithrah;

Muhammad Fayrus Zam Zamy (Juara I Khitobah), Yusuf Surya Kusuma (Juara II Khitobah), Muna Izatun Nisa'( Juara I News Anchor), dan Ulya (Juara III News Anchor).

Kemenangan ini tentu diharapkan menularkan semangat ke santri-santri lain. Kemenangan ini juga mengabarkan bahwa para santri dengan segala kesibukan dan keterbatasannya, tetap bisa menorehkan prestasi di bidang yang mereka memiliki potensi.

dfn

Upacara Bendera Al Fithrah Surabaya: Formasi Garuda

Momentum tujuh belas Agustus selalu meriah di seluruh pelosok Indonesia. Masyarakat menyambutnya dengan gegap gempita. Upacara bendera dilakukan di mana-mana. Tak lain adalah sebagai wujud upaya mensyukuri kemerdekaan Indonesia.

Upacara bendera bukan hanya perkumpulan tanpa makna. Upacara bendera juga bisa jadi semakna dengan pembacaan manaqib para pahlawan pendiri bangsa. Mereka para pahlawan berjuang berdarah-darah. Mengorbankan segala apa yang dipunya.

Sebentar bersikap khidmat kita saat upacara tidaklah sebanding dengan pengorbanan mereka. Setidaknya, dengan bersikap khidmat kita sudah berusaha menghargai jasa para pahlawan pendiri bangsa.

Mensyukuri Hari Kemerdekaan Indonesia

Upacara bendera di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Upacara bendera pengibaran sang saka merah putih ini diikuti oleh seluruh santri dari berbagai unit di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, mulai dari jenjang RA, MI, PDF Wustho, PDF Ulya, Ma’had Aly dan MDTJ Al Fithrah Surabaya.

Tampak hadir di barisan depan adalah Keluarga Ndalem Hadlratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi. Juga para pengurus Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Al Utsmaniyah, pengurus yayasan Al Khidmah serta asatidz asatidzah serta pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

Bagaimanapun, hari kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan 78 silam. Indonesia sudah mengumumkan kemerdekaannya. Tidak ada lagi penjajah. Tidak ada yang mengintervensi. Rakyat Indonesia bisa dengan tenang melaksanakan aktivitas kesehariannya.

Merdeka yang kita peroleh bukan kebahagiaan yang diperoleh dengan cuma-cuma. Ada harga mahal yang dibayar pahlawan dulu. Kita sebagai warga negara Indonesia berkewajiban memberikan warna yang indah untuk Indonesia. Mengisi hari-hari setelah Proklamasi digaungkan, dengan hal-hal yang membawa dampak positif untuk diri sendiri dan negara. Hal ini tak lain sebagai wujud syukur atas nikmat merdeka.

Amanat Pembina Upacara

Amanat Pembina Upacara dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Ke-78 Republik Indonesia di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya disampaikan oleh KetuaPondok, Ust. Ahmad Kunawi, M.Pd.

“Pada hari ini kita melaksanakan upacara memperingati tujuh belas Agustus 2023 guna memperingati jasa para pahlawan yang telah berjuang melawan penjajah. Hari ini, 78 tahun yang lalu, merah putih berkibar dan lagu kebangsaan dilantunkan di bumi pertiwi. Sebagai tanda bahwa tanah air Indonesia telah merdeka,” sambut Ust.  Ahmad Kunawi, Ketua ponpes Al Fithrah.

“Kita, keluarga besar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah memperingatinya dengan upacara kemerdekaan Indonesia.Ini sesuai dengan  yang dianjurkan guru kita, Hadlratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori al-Ishaqy. Artinya, kehadiran kita memperingati hari kemerdekaan Indonesia ini juga adalah dalam rangka nderek aken dawuh Beliau Hadlratusy Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi,” sambung beliau.

Sebagaimana diketahui, tema hari kemerdekaan ke-78 kali ini adalah “terus melaju untuk Indonesia maju”, maka sudah seyogianya bagi kita untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Perlu untuk belajar, belajar dan belajar.

“Kemerdekaan yang kita peroleh ini adalah juga adalah berkat para kiyai, para ulama, para santri. Hadlratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari misalnya. Dengan resolusi jihadnya adalah figure utama yang membakar semangat Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo dalam pertempuran di Surabaya,” tambah beliau lagi.

Jauh sebelum itu, peran para ulama untuk kemerdekaan Indonesia tak terhitung jumlahnya. Mereka berjuang bukan hanya harta, melainkan juga nyawanya. Di antaranya ada Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, dan para pahlawan yang namanya belum sempat tercatat sejarah. Demikian disampaikan dalam amanat pembina upacara.

Memaknai Hari Kemerdekaan

Santri diharap bisa memaknai hari kemerdekaan negerinya. Hari kemerdekaan bukan hanya rutinitas saja. Para santri bukan hanya berpanas ria ketika mengikuti upacara bendera. Mereka diharap membawa oleh-oleh perubahan ke arah yang lebih baik setelahnya.

Sebagai santri, tugas memaknai hari kemerdekaan Indonesia bisa dengan belajar, belajar dan belajar. Kemerdekaan yang telah diwariskan para pahlawan ini tidak sia-sia. Para santri diharapkan mampu meniru para pendahulunya.

Para santri dulu mampu menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Para santri hari ini diharapkan mampu memaknai hari kemerdekaan dengan menjaga keutuhan bangsa dan negara.

Menjaga keutuhan bangsa dan negara bisa dilakukan dengan rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara. Belajar yang rajin, tidak sering bolos, sehingga kelak sepulang nanti akan menjadi manusia yang benar-benar berguna.

Memaknai hari kemerdekaan bisa dilakukan dengan menjaga semangat persatuan dan kesatuan. Saling menghormati antar sesama santri dari manapun asalnya.

Formasi Garuda dalam Upacara bendera di Al Fithrah

Formasi garuda nampak terbentuk ketika upacara bendera di Al Fithrah Surabaya. Upacara bendera memperingati hari kemerdekaan di Al Fithrah tahun ini membentuk gambar garuda yang membentangkan sayapnya.

Setiap tahunnya, para santri paskibraka ini menampilkan formasi yang berbeda. Para santri yang tergabung dalam team paskibraka ini sudah berlatih sejak akhir bulan Juli lalu. Mereka adalah para santri terpilih yang tersaring dari seratusan santri.

Mereka telah siang malam berlatih untuk kesuksesan pelaksanaan upacara bendera di Al Fithrah. Garuda mewakili semangat mereka. Semangat santri Al Fithrah secara keseluruhan. Bahkan semangat seluruh rakyat Indonesia.

Garuda adalah simbol kebersamaan. Kekohonan dalam persatuan. Garuda mewakili bhinneka tunggal ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Selamat Hari Ulang Tahun ke-78 Republik Indonesia. Mari bersama-sama melaju untuk Indonesia yang lebih maju.

Semoga segenap doa terbaik yang dilantunkan hari ini menjadi sebab sentosa, damai dan sejahteranya Indonesia. Amin.

mz/dfn